Melawan Hama Kopi Tanpa Pestisida

Syamsu merasa lega karena panen kopinya tahun ini selamat dari gempuran hama yang jenisnya Melawan Hama Kopi Tanpa Pestisida

Syamsu merasa lega karena panen kopinya tahun ini selamat dari gempuran hama yang jenisnya cukup beragam


Syamsu merasa lega karena panen kopinya tahun ini selamat dari gempuran hama yang jenisnya cukup beragam. Suka citanya semakin bertambah saat tahu banyak petani lainnya gagal memetik hasil yang memuaskan. Akibat serangan hama, produksi kopi mereka anjlok hingga tinggal 30 persennya.

Keberhasilan Syamsu berawal dari konsultasinya dengan beberapa peneliti di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI), Jember. Syamsu mengeluh karena panen kopinya mengenaskan akibat serangan hama dengan tingkat produksi yang melorot tajam. Beberapa hama seperti hama embug, jamur akar, kutu hijau, kutu putih, penggerek buah kopi (PBKo), ramai-ramai mengeroyok tanaman kopinya.

Menurut Syamsu, hama embug dan jamur akar menyerang perakaran tanaman kopi dengan cara memakan akar hingga habis dan menyebabkan kematian bagi tanaman. Sedangkan hama kutu menyerang dompolan buah, bunga, pucuk-pucuk batang, serta daun.

Hama tersebut menghisap cairan pada bagian tanaman yang diserang sehingga buah dan batang jadi rontok. Sementara itu PBKo menyerang buah kopi dengan cara melobangi buah hingga membuatnya jadi kopong.

Efek Samping

Selama ini, Syamsu menggunakan berbagai jenis pestisida untuk mengendalikan aneka hama tersebut. Selain harganya mahal, ternyata pestisida menimbulkan berbagai efek samping seperti mematikan tanaman lainnya. Di samping itu pestisida juga meninggalkan residu kimia yang mengakibatkan kualitas kopi rendah.

Akibat serangan hama, secara kualitas dan kuantitas produksi kopi jelas mengalami penurunan. “Tingkat serangan 60 persen akan menyebabkan produksi kopi tinggal 30 persennya dengan kualitas yang jelek,” ujar Soekadar.

Oleh karena itu, penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) yang ramah lingkungan mendesak untuk diterapkan secara nasional. Setidaknya tiga keuntungan sekaligus yang bisa didapatkan dengan sistem PHT yakni peningkatan produksi, peningkatan mutu, serta penurunan biaya produksi.

Sanitasi dan Nabati

Setiap jenis hama atau lebih dikenal dengan organisme pengganggu tanaman (OPT) memerlukan pengendalian secara spesifik, tutur Soekadar. Untuk hama PBKo pengendaliannya dilakukan dengan cara sanitasi dan penggunaan atraktan nabati. Cara sanitasi dilakukan dengan cara petik bubuk, rampasan, dan lelesan untuk memutus siklus hidup hama.

Petik bubuk adalah dengan memanen buah kopi yang masak sejak awal karena serangan PBKo. Sedangkan rampasan dan lelesan adalah memanen buah yang tertinggal di pohon serta yang jatuh dari pohon di akhir masa panen.

Buah-buah kopi tersebut direndam di air panas selama 10 menit untuk membunuh serangga hama di dalam buah. Hanya pengendalian dengan cara ini memerlukan tenaga kerja cukup banyak sehingga kurang efisien.

Cara lainnya dengan menyemprotkan jamur Beauveria bassiana pada hama PBKo. Atraktan nabati tersebut mampu mematikan hama dalam 3-4 hari setelah penyemprotan. Hanya saja agen pengendali hayati tersebut harus segera dikembangkan sebagai bioinsektisida agar petani mudah memperolehnya.

Berikutnya hama yang menyerang seluruh sentra produksi kopi Indonesia adalah nematoda parasit jenis Pratylenchus coffeae dan Radopholus similis. Kedua jenis cacing tersebut menyerang akar-akar serabut yang masih muda hingga menyebabkan gejala luka akar (lession).

Akibatnya akar akan membusuk, tanaman jadi kerdil, daun menguning, dan akhirnya tanaman mati. Cacing tersebut sulit dikendalikan karena memiliki tanaman inang yang cukup banyak (sekitar 200 jenis).

Hama tersebut mampu membentuk kista sehingga mampu bertahan di dalam tanah tanaman inang dalam waktu lama. Penyebarannya sangat mudah karena bisa terbawa oleh aliran air, manusia, hewan, alat pertanian, bibit kopi, bahkan sepatu.

Pengendalian hama ini bisa dilakukan dengan menggunakan tanaman antagonis yang juga berfungsi sebagai tanaman rotasi. Jenis tanaman Tagetes patula dan rumput guatemala (Trypsacum laxum) cukup efektif menekan populasi hama.

Pengendalian populasi hama juga bisa dilakukan dengan penggunaan pupuk kandang dan kulit kopi. Selain itu juga bisa digunakan ekstrak biji dan daun tanaman mimba (Azadirachta indica) sebagai atraktan nabati. Hanya, keefektifan penggunaannya perlu diuji lebih lanjut, ujar Soekadar.

Serangan Kutu Putih

Sementara itu, serangan kutu putih (Planococcus citri) yang mematuk dan mengisap kuncup bunga, bunga dan pentil buah kopi mampu menurunkan produksi hingga 50-75 persen. Hama ini bisa ditekan dengan cara menanam tanaman penaung kopi agar udara di kebun cukup lembab.

Dalam kondisi lembab, agen hayati seperti P. citri dan jamur Emphusa fresenii akan bekerja optimal menekan hama. Selain itu populasi kutu bisa ditekan dengan menggunakan predator kutu loncat (Heteropsylla cubana) yaitu kumbang biru (Curinus coeruleus).

Hama lainnya yang juga sering menyerang tanaman kopi adalah penyakit karat daun yang disebabkan oleh Hemileia vastatrix. Serangan jenis hama ini mampu menghancurkan perkebunan hingga produksinya tinggal 25 persen saja.

Hama ini tidak hanya menyerang tanaman kopi di Indonesia namun sudah menjadi musuh petani kopi di seluruh dunia. Hama tersebut meninggalkan jejak berupa gejala bercak kuning jingga pada permukaan bawah daun. Akibatnya daun akan mulai berguguran sehingga produktivitas tanaman jadi rendah.

Pengendalian hama ini dilakukan dengan pengaturan pemangkasan daun, pemupukan, dan pemeliharaan secara tepat. Selain itu juga harus dikembangkan varietas kopi yang tahan terhadap penyakit ini. Menurut Soekadar bisa juga disemprotkan ekstrak daun cengkeh, kemangi, teh hitam, dan mimba untuk menghambat perkembangan jamur patogen itu.

LihatTutupKomentar